Social Icons

Pages

Selasa, 29 September 2015

Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit, Momentum Swasembada Kedelai

Data Ditjen Perkebunan tahun 2014 menunjukkan bahwa luas areal kelapa sawit di Indonesia mencapai 10,9 juta hektar dengan total produksi 29,3 juta ton CPO.  Tanaman kelapa sawit tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia, terutama di Riau, Sumut, Kalteng, Sumsel, Kalbar, Kaltim, Jambi, Kalsel, Aseh dll. Rencana pemerintah untuk melakukan peremajaan kelapa sawit seluas 3-4 juta hektar, merupakan momentum sangat bagus apabila pemerintah jeli menyikapinya. Tanaman kelapa sawit muda yang nantinya akan ditanam untuk menggantikan tanaman kelapa sawit tua yang sudah tidak produktif akan menyisakan ruang sebelum kanopi tanaman kelapa sawit saling bersentuhan sekitar umur 4-5 tahun. Ruang tersebut sangat bagus jika dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kedelai sebagai tanaman sela diantara kelapa sawit muda. Apalagi ada kurun waktu sekitar 4 tahun sebelum kanopi kelapa sawit menutup lahan dibawahnya.

Upaya pengembangan kedelai diantara tanaman kelapa sawit muda bukan hal yang sulit jika ada komitmen dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Kementerian atau lembaga terkait lainnya. Saat ini sudah banyak inovasi teknologi kedelai untuk ditanam diantara tanaman keras yang masih berumur muda 0-5 tahun serta toleran kekeringan atau lahan masam, seperti halnya benih varietas unggul dan teknologi budidayanya. Awal pengembangan kedelai sebaiknya dimulai dari perbanyakan benih selama satu musim tanam pada musim penghujan di beberapa lokasi peremajaan tanaman kelapa sawit. Hasil benih yang diperoleh dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pengembangan kedelai skala luas pada musim penghujan kedua atau jika memungkinkan kondisi lahannya dapat ditanam pada musim kemarau. Perlu diingat agar perbanyakan benih terus dilakukan pada musim penghujan berikutnya dan bersamaan dengan pengembangan kedelai skala yang lebih luas lagi. Selain itu, benih kedelai juga dapat diperoleh dari BUMN bidang perbenihan sehingga dapat mempercepat pengembangan kedelai skala luas. Jika pemerintah tetap berupaya untuk swasembada kedelai pada beberapa tahun mendatang, momentum ini sebaiknya dimanfatkan dengan sebaik-baiknya. Tentunya diperlukan dukungan dana dan lembaga pemasaran, agar produksi kedelai dari wilayah perkebunan kelapa sawit dapat didistribusikan ke seluruh sentra produksi tahu dan tempe serta industri kecap maupun industri lainnya yang berbahan baku kedelai.

Pengembangan kedelai diantara tanaman kelapa sawit muda memberi keuntungan lain yaitu berkurangnya persaingan lahan produktif untuk tanaman kedelai, jagung, padi dan sayuran. Disamping itu, lahan peremajaan kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman jagung yang ditanam secara tumpang sari dengan kedelai maupun tanaman kacang-kacangan lain seperti kacang tanah dan kacang hijau. Semua hal diatas, kembali kepada peran pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian/Lembaga lain yang terkait, apakah masih ada keinginan untuk swasembada kedelai atau tetap mengimpor dari negara lain seperti USA dan negara Amerika Latin. Selain itu, perlu dukungan para anggota DPR Pusat dan daerah serta Presiden untuk mewujudkan swasembada kedelai dengan memanfaatkan lahan peremajaan kelapa sawit yang dapat mencapai 3-4 juta hektar.


Tentunya rencana ini tidak langgeng karena hanya dalam kurun waktu maksimal 5 tahun. Bagaimana kedepannya? Itu yang harus dicari solusinya oleh pemerintah, yang penting momentum di depan mata jangan dibiarkan musnah tanpa berbuat sesuatu untuk bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates