Bagi peneliti, bekerja pada pembangunan
berarti berbicara dan bekerja lebih dari biasanya dengan rekan-rekan sesama
peneliti. Kerangka baru dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) harus
membantu menghidupkan kembali perdebatan lama mengenai keuntungan yang dari
kolaborasi dan antar disiplin ilmu sebagai dasar untuk program aksi dan
pembuatan kebijakan. Namun, perdebatan tersebut masih berkutat pada pembicaraaan
dibanding program aksi di lapang. Seharusnya menjadi inti dari upaya strategis
pelaksanaan SDG dan terus melangkah maju baik ke tingkat tertinggi dari
kebijakan maupun tingkat terendah dalam pelaksanaannya. Apa yang jelas hilang tidak hanya perihal pendanaan dan kelembagaan untuk
riset yang lebih kolaboratif guna menjawab pertanyaan kompleks dalam
pembangunan maupun perhatian yang tepat untuk insentif, format dan alat-alat
yang dapat mendorong peneliti untuk lebih berkolaborasi - tanpa harus memilih antara kerja
kolaboratif dan pekerjaan yang akan memajukan karir akademis mereka.
Kolaborasi vs Spesialisasi
Kolaborasi bukanlah standar dalam dunia riset:
pelatihan akademis, kemajuan karir dan penerbitan semua yang ditetapkan oleh
spesialisasi yang lebih besar. Hal
ini khususnya pada kasus jurnal yang berganti menjadi jurnal online, yang
dengan mudah menghubungkan para peneliti dengan agenda riset serupa di seluruh dunia. Hanya sedikit bidang riset yang
dibangun sebagai antar disiplin ilmu, seperti halnya dalam ilmu sosial, contoh
yang paling jelas adalah geografi. Meningkatnya kompetisi antar akademik
internasional adalah alasan lain. Ternyata kebalikannya dengan riset kolaborasi,
riset generalis menjadikan para peneliti hanya berpengalaman musiman. Namun,
inisiatif eksperimental dari seluruh dunia menunjukkan bahwa sesuatu dapat
berubah - tanpa harus mengubah aturan akademik. Secara khusus, inovasi dalam penggunaan insentif, format dan
alat-alat dapat menjadi kunci untuk mempromosikan riset kolaboratif.
