Berikut adalah
beberapa fakta penting mengenai hubungan antara perlindungan sosial, kelaparan,
gizi dan adaptasi perubahan iklim. Orang yang miskin rentan terhadap kelaparan dan guncangan,
walaupun kecil, dapat mendorong mereka
lebih dekat dengan kemiskinan, kekurangan gizi dan kelaparan, bahkan kematian
dini. Kebijakan dan
program perlindungan sosial memainkan peran penting dalam mengurangi
kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi dan WFP mendukung intervensi
perlindungan sosial dan jaring pengaman yang peka terhadap
pangan dan iklim di seluruh dunia.
Sabtu, 06 Februari 2016
Senin, 01 Februari 2016
Apakah perlindungan sosial dapat mencegah pekerja anak di sektor pertanian?
Pada usia ketika
anak-anak harus berada di sekolah dan belajar, kenyataannya ada jutaan anak
yang bekerja.
Saat ini, ada 168
juta pekerja anak di seluruh dunia, sebuah kondisi yang sangat menyedihkan di sektor
pertanian dan di antara rumah tangga miskin di pedesaan. Hampir 60 persen dari
pekerja anak tersebut berusia antara 5-17 tahun yang berkerja di sektor
pertanian, seringnya terjadi secara paksa, dan banyak yang terdampak lingkungan
yang berbahaya. Kemiskinan dan kekurangan gizi selama masa kanak-kanak mengakibatkan
bayangan panjang tentang prospek masa depan individu anak, yang membuat orang
bertanya-tanya apakah program perlindungan sosial dapat membantu mengurangi
pekerja anak di sektor pertanian. Apakah kita memiliki bukti itu? Dan apakah kita
dapat membuat perlindungan sosial yang lebih efektif? Ada bukti bahwa negara yang
berinvestasi dalam perlindungan sosial memiliki tingkat pekerja anak yang
rendah, hal ini menunjukkan adanya kontribusi untuk mengurangi beberapa
kerentanan pada pertanian dan rumah tangga miskin pedesaan untuk menggunakan
pekerja anak dan strategi mengatasi ancaman bahaya lainnya bagi rumah tangga.
Rabu, 20 Januari 2016
Kebijakan Pangan
Apa yang dimaksud dengan
"kebijakan pangan"?.
Kebijakan pangan adalah suatu keputusan,
program atau proyek yang didukung oleh lembaga pemerintah, swasta, atau
organisasi yang berdampak pada bagaimana makanan diproduksi, diproses, didistribusikan,
dibeli, dilindungi dan dibuang. Kebijakan pangan beroperasi pada tingkat
global, nasional, provinsi, regional, lokal dan kelembagaan. Peraturan
Organisasi Perdagangan Dunia, kebijakan kesejahteraan, subsidi pertanian dan
standar pelabelan adalah beberapa contoh kebijakan tingkat tinggi yang
mempengaruhi sistem pangan. Di tingkat lokal dan kota, contoh kebijakan pangan
meliputi: 1) Persyaratan regulasi diarahkan kepada seseorang yang berencana
membuka usaha bisnis berbasis pangan; 2) keputusan pembelian makanan dari
pembeli kelembagaan dan bagaimana mereka berhubungan dengan penggunaan barang
yang diproduksi secara lokal; 3) Sebuah keputusan oleh pejabat sekolah perihal apakah
mengijinkan atau tidak tersedianya junk food dan minuman ringan di mesin penjual
otomatis; dan 4) Persyaratan gizi anak yang ditempatkan pada tempat penitipan
anak yang menerima dana dari pemerintah kota.
Apa
yang dimaksud dengan Dewan Kebijakan Pangan?
Dewan Kebijakan Pangan (DKP) terdiri dari
individu-individu dari semua aspek dari sistem pangan lokal. Mereka sering
resmi mendapat ijin melalui suatu aksi pemerintah seperti gerakan Dewan Kota
atau mereka juga bisa menjadi upaya akar rumput. Sebuah Dewan Kebijakan Pangan
merupakan kolaborasi yang inovatif antara warga dan pejabat pemerintah.
Tujuannya adalah untuk menyediakan sebuah forum untuk advokasi dan kebijakan
pembangunan yang bekerja menuju terciptanya sistem pangan yang berkelanjutan
secara ekologis, ekonomis dan sosial. Tujuan utama dari berbagai Dewan
Kebijakan Pangan adalah untuk memeriksa operasi dari sistem pangan lokal dan
memberikan ide-ide dan rekomendasi kebijakan bagaimana hal itu dapat
ditingkatkan.
Kamis, 14 Januari 2016
Kita dapat mengakhiri kelaparan dunia, asalkan setiap orang siap berkontribusi.
Satu dari setiap sembilan orang tidak
mendapatkan cukup makanan bergizi untuk makan mereka setiap harinya. Jumlah
penduduk yang lapar ini (sekitar 800
juta orang) sama dengan 12 x jumlah penduduk Inggris. Kelaparan adalah salah
satu masalah terbesar di dunia dan seperti yang diprogramkan pada Hari Pangan Sedunia
tahun ini, gerakan global berupaya menghilangkan masalah kelaparan pada tahun
2030. Zero Hunger (tidak ada kelaparan) merupakan penggerak baru untuk
memobilisasi masyarakat global agar bekerja sama untuk mencapai tujuan Zero
Hunger selama dekade yang akan datang. Tidak seorangpun yang membayangkan upaya
ini akan mudah, tetapi PBB akan berkerja keras untuk mengurangi kelaparan di
seluruh dunia. World Food Program (WFP) percaya bahwa saat ini merupakan waktu
yang tepat bagi semua orang, perusahaan besar dan organisasi untuk bersama-sama
dan menginspirasi generasi baru untuk mewujudkan Zero Hunger.
Minggu, 10 Januari 2016
Ketahanan pangan tidak dapat menunggu??
Laporan FAO yang dipublikasikan dengan judul “State of
Food Insecurity in the World 2015” pada bulan Juni tahun 2015 menunjukkan bahwa
jumlah penduduk dunia yang kelaparan telah menurun menjadi 12,9%. Hal ini tentu kabar baik, tetapi pada saat
yang sama, angka absolut masih mengejutkan yaitu sekitar 795.000.000 orang
masih mengalami kelaparan saat ini dan jika tindakan terhadap perubahan iklim
tidak tercapai jumlah penduduk yang lapar akan meningkat. Gizi merupakan salah
satu indikator untuk mengukur ketahanan pangan, sebuah konsep yang memiliki
banyak dimensi. Hal ini mencakup ketersediaan pangan, produksi, akses terhadap
pangan, pemanfaatan dan yang sangat penting lagi adalah stabilitas. Perubahan
iklim dan dampak yang terkait cenderung mempengaruhi semua dimensi ketahanan
pangan di berbagai tingkat dan situasinya lebih rumit dan rentan di seluruh
dunia.
FAO telah bekerja untuk mendukung beberapa negara
guna menghadapi dampak perubahan iklim selama bertahun-tahun. Pekerjaan FAO
adalah membantu negara-negara tersebut untuk mencapai ketahanan pangan dalam
kondisi ketidakpastian perubahan iklim. Karena sektor pertanian (produksi
tanaman dari petani kecil, peternak, kehutanan dan perikanan) yang sangat
terkena variabilitas iklim, maka FAO perlu membantu agar negara-negara tersebut
tangguh. Ada banyak cara untuk mencapai sistem pangan yang tangguh dan
produktif.
Rabu, 06 Januari 2016
Pertanian Keluarga: Membangun Masa Depan Pertanian Berkelanjutan
Sebuah revolusi telah berlangsung ketika kita
sedang memahami pertanian keluarga. Perubahan perspektif ini dipicu oleh
beberapa tantangan global. Krisis ketahanan pangan pada tahun 2008 yang terjadi
pada tahun produksi sereal yang tertinggi, telah membuka mata kita pada fakta
bahwa kelaparan sering terjadi bukan terutama masalah produksi pangan, tetapi
terjadi karena ada kaitannya dengan cara mengatur masyarakat, terhadap
kemiskinan dan marginalisasi. Transformasi besar lain adalah pengakuan bahwa
perubahan iklim yang terjadi karena aktivitas manusia. Hal ini secara logis
berarti bahwa kegiatan manusia juga dapat membantu beradaptasi dan mitigasi
perubahan iklim. Keluarga petani adalah kunci untuk masalah ini. Sebuah
pemikiran ulang telah berlangsung sehubungan dengan model iklim cerdas pertanian berkelanjutan,
membangun agro-forestry, pertanian konservasi, pengelolaan daerah aliran
sungai, model-agro-sylvo pastoral dan pendekatan lansekap. Akhirnya, sejumlah
negara telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan dan akan mencapai
target MDG untuk mengurangi separuh proporsi penduduknya yang kelaparan. Tetapi
manfaat dari pertumbuhan ini belum selalu terbagi rata. Pertanyaan yang
tersisa: Bagaimana dengan setengah lainnya? Sementara kita merayakan keberhasilan
terbaru pengurangan jumlah anak-anak, perempuan dan laki-laki yang menderita
kekurangan gizi kronis, dan angka ini terus mengejutkan dunia. Ketika datang
kelaparan, satu-satunya angka jumlah penduduk yang menderita adalah nol.
Jumat, 01 Januari 2016
Refleksi Hari Pangan Sedunia 2015
Selama setengah abad terakhir, pertanian dan sistem
pangan telah kehilangan arahnya, dalam kegelapan dan kabut yang diciptakan oleh
mitos dan propaganda yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan produsen bahan
kimia pertanian bahwa obat-obatan pengendali hama dan penyakit serta pupuk
sintetis diperlukan untuk menyediakan pangan bagi penduduk dunia. Untuk
industri, hal ini akan memperluas keuntungan perusahaan setelah perang
berakhir. Sedangkan untuk planet bumi dan penduduknya, biaya untuk usaha
pertanian sudah sangat tinggi. Sekitar 75%
dari keanekaragaman hayati bumi, tanah, dan air telah hancur, iklim tidak
stabil, petani telah tumbang, dan bukannya bergizi bagi kita, makanan hasil industri
telah menjadi penyebab terbesar timbulnya penyakit dan kesehatan yang buruk. Dan
setelah semua kehancuran itu, sistem industri hanya memproduksi 30% dari
makanan yang dikonsumsi penduduk dunia. Jika kita terus melakukan hal diatas, kita
akan memiliki planet yang mati dan tidak tersedia makanan. Kami tidak makan
propaganda. Kita makan tanah, kita makan air, kita makan keanekaragaman hayati.
Dan ketika sumber daya yang vital telah hancur, maka keamanan pangan kita akan hancur.
Langganan:
Postingan (Atom)
