Social Icons

Pages

Selasa, 04 Juli 2017

Sains masyarakat perlu diperluas



Ilmuwan masyarakat atau anggota masyarakat yang secara sukarela terlibat dalam karya ilmiah, telah banyak berkontribusi dalam ilmu lingkungan, namun mereka masih memiliki potensi untuk melakukan lebih banyak lagi guna membantu mengkaji keanekaragaman hayati regional dan global. Menurut Mark Chandler, penulis utama studi dan direktur riset di non-profit Earthwatch Institute, dirinya telah melihat berbagai peserta yang mampu memberikan kontribusi yang sangat penting, termasuk kelompok-kelompok mahasiswa dan anggota masyarakat setempat. Mark juga mengidentifikasi beberapa jalur kunci untuk meminta para ilmuwan masyarakat untuk mengumpulkan data. Misalnya, lembaga riset mungkin dapat bekerja dengan masyarakat lokal untuk membantu memantau keanekaragaman hayati pada habitat dan spesies dimana  relawan peduli terhadap hutan, spesies yang mereka buru untuk sumber makanan, alasan ekonomi atau budaya, umumnya penduduk setempat sering memiliki pengetahuan yang baik tentang keragaman hayati di mana mereka tinggal. Aplikasi global, seperti iNaturalist atau eBird untuk kelompok perkotaan, maka para manajer taman dan wisatawan dapat diminta untuk membantu membuat serangkaian foto dan catatan serta spesies di lokasi tertentu.

Senin, 08 Mei 2017

Menemukan dampak nyata dari dukungan inovasi pertanian



Evaluasi dampak dalam pembangunan pertanian merupakan topik panas. Dan begitu pula perdebatan tentang metodologi. Sebagian besar lembaga donor yang menghasilkan studi terhadap dampak dari pembangunan pertanian tertarik untuk melaporkan kontribusi mereka untuk memenuhi Millenium Development Goals, dengan tujuan utama peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan. Sebagai tanggapan, desain riset yang canggih dan analisis ekonometrik (pengujian empiris dari model ekonomi) telah dikembangkan untuk mengisolasi efek bersih dari intervensi pembangunan dan mengukur perubahan pendapatan rumah tangga. Analisis ini mengasumsikan adanya korelasi antara kegiatan proyek, atau variabel perlakuan, dan pendapatan sebagai variabel hasil. Namun seringkali, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi hasil yang menghubungkan perubahan intervensi tertentu menjadi tidak mungkin. Bahkan dengan intervensi yang relatif sederhana seperti penyuluhan pertanian (di mana temuan riset dipromosikan untuk meningkatkan praktik pertanian) atau hibah kecil untuk mendukung percobaan, hal itu menyulitkan untuk mengukur dampaknya pada laba bersih.

Jumat, 07 April 2017

Pendekatan yang salah untuk dampak riset




Berkembangnya wabah demam Rift Valley di Uganda memegang pelajaran penting bagi pemikiran saat ini tentang investasi dalam riset untuk pembangunan global. Apa yang terjadi di Uganda cukup familiar - pelajaran yang sama telah muncul sebelumnya (wabah penyakit Ebola di Afrika Barat tahun 2013). Langkah-langkah pengendalian epidemiologi yang dirancang untuk membatasi penyebaran penyakit tidak sepenuhnya mempertimbangkan kenyataan yang diderita masyarakat yang terkena dampak. Dalam hal ini, apa yang dapat dimakan atau diusahakan di lahan pertniannya oleh masyarakat miskin pedesaan, jika susu dan daging dilarang penjualannya? Juga saluran komunikasi resmi yang digunakan untuk mengingatkan dampak ancaman kesehatan masyarakat tidak berasal dari tokoh masayarakat yang terpercaya. Dalam diskusi tentang sains untuk pembangunan, sering disebut atau dinyatakan agar riset yang dilaksanakan harus memiliki dampak terhadap masyarakat, jelas nampak nilau suatu riset. Jadi mengapa kesalahan ini terus terjadi? Pertanyaan yang sangat mendesak bukan hanya karena mata pencaharian dan nyawa kehidupan masyarakat dipertaruhkan, tetapi juga karena munculnya tren dalam pendanaan riset yang cenderung meningkatkan frekuensi kesalahan tersebut. Ironisnya, tumbuhnya kepedulian lembaga pembangunan dengan dampak riset juga ikut menghambat untuk mempelajari apa yang telah berhasil.

Kamis, 09 Maret 2017

Asia Pasific diberi label hot spot untuk keamanan air



Ekonomi di kawasan Asia-Pasifik tidak dapat mempertahankan pertumbuhan yang dinamis saat ini, kecuali perihal air ikut dipertimbangkan, karena kawasan ini sedang menghadapi "krisis" dalam mengamankan dan mengelola sumber daya utama tersebut. Sebuah laporan yang komprehensif tentang pembangunan air di Asia-Pasifik baru saja dirilis oleh Asian Development Bank (ADB) yang menyatakan bahwa saat ini ada kondisi "global hot spot untuk ketidakamanan air". Sekitar 3,4 miliar orang tinggal di daerah yang mengalami kelangkaan air di Asia pada tahun 2050, kata laporan tersebut, yang dikutip datanya dari studi yang dilakukan oleh Institute yang berbasis di Austria (IIASA = Austria-based International Institute for Applied Systems Analysis). Beberapa negara di wilayah ini - Afghanistan, Cina, India, Pakistan dan Singapura - diproyeksikan memiliki ketersediaan air per kapita terendah pada tahun 2050. Meningkatnya permintaan dari penggunaaan air, kata presiden ADB Takehiko Nakao, sumber daya air yang terbatas akan mengalami situasi yang lebih berbahaya.

Saya percaya tantangan paling menakutkan adalah untuk melipatgandakan produksi pangan tahun 2050 guna memenuhi kebutuhan pangan bagi populasi yang semakin berkembang dan makmur, sementara itu juga diperlukan penyediaan air untuk pengguna domestik yang lebih banyak dan untuk memenuhi kebutuhan industri dan energi," kata Nakao dalam mengawali laporan ADB. Dampak dari perubahan iklim, meningkatnya variabilitas iklim dan bencana yang berhubungan dengan air akan berujung pada cakrawala yang lebih menantang daripada yang kita alami di masa lalu.

Jumat, 10 Februari 2017

2016, tahun solusi lokal terhadap masalah global



Tiga organisasi sains internasional telah mengumumkan bahwa tahun 2016 akan menjadi Tahun Internasional Pemahaman global (IYGU = International Year of Global Understanding), bertujuan untuk menunjukkan "bagaimana menerjemahkan wawasan ilmiah ke dalam gaya hidup yang lebih berkelanjutan". Inisiasi awal diumumkan pada Forum Ilmu Sosial Dunia di Durban pada awal bulan September yang lalu, yang mencakup proyek riset, program pendidikan dan kampanye informasi, yang dilakukan sepanjang tahun dan di seluruh dunia. Tahun ini ditujukan untuk menekankan hubungan antara lokal, tindakan sehari-hari dan masalah-masalah global seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan - dengan fokus pada kegiatan praktis, solusi berbasis ilmu pengetahuan. Pada setiap hari pada tahun 2016, kegiatan akan menyoroti perubahan ke aktivitas sehari-hari yang secara ilmiah telah terbukti lebih berkelanjutan dari praktek saat ini. Inisiatif ini didukung oleh Dewan Internasional untuk Sains, Dewan Ilmu Sosial Internasional dan Dewan Internasional untuk Filsafat dan Ilmu Manusia. Menurut Rob Cartridge, NGO Practical Action in the United Kingdom, diharapkan fokus tahun ini tidak akan begitu banyak menghasilkan dana riset lebih untuk lembaga Northern, tapi lebih ditekankan pada menerjemahkan hasil riset yang ada dan membantu agar sampai ke tangan masyarakat miskin dan praktisi pembangunan.

Sekitar 50 pusat-pusat regional di seluruh benua akan menyelenggarakan acara lokal, kata Benno Werlen, direktur eksekutif IYGU, seorang ahli geografi di Universitas Friedrich Schiller Jerman di Jena. Proyek ini akan menelan biaya sekitar € 1.500.000 (sekitar US $ 1,7 juta), dan saat ini sedang mencari sponsor untuk tambahan dana tersebut. Diusulkan oleh Uni Geografis Internasional, karena menurut observasi PBB bahwa IYGU tidak memiliki status sebagai tahun internasional. Inisiatif ini bertujuan untuk "meningkatkan suara sains" dan adalah "hanya satu-satunya tahun internasional di bumi ini yang memiliki dukungan dari komunitas ilmiah". Beberapa ilmuwan terkemuka dan pembuat kebijakan telah menyatakan dukungan mereka, termasuk pemenang Nobel Kimia Yuan Tseh-Lee dari Taiwan, yang memuji IGYU sebagai tandingan dari diskusi kebijkaan top-down.

Menurut  Tseh-Lee, ketika negosiasi global pada iklim menyerang keberlanjutan krisis dari atas, IYGU dapat melengkapinya dengan baik dengan solusi yang terkoordinasi dari bawah - dengan memperoleh pemahaman secara individu dan mengubah kebiasaan sehari-hari mereka. Anantha Duraiappah, direktur Mahatma Gandhi Institute of Education for Peace and Sustainable Development, mengatakan tahun ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi para ilmuwan untuk bekerja dengan para pembuat kebijakan dan membangkitkan minat dalam sains di kalangan mahasiswa. Tetapi ia menunjukkan bahwa sulit untuk jenis proyek seperti ini untuk menarik perhatian. Saya benar-benar berpikir bahwa ada hal berlebihan dari peristiwa ini dan saat ini dunia sedang mengalami kelelahan acara-acara Hari Internasional, Tahun dan Dekade. Sementara itu, Cartridge berpendapat bahwa acara ini cukup optimis. Tahun internasional dapat menjadi cara yang baik untuk menggembleng aksi dan menyoroti masalah. Hal yang satu ini tampaknya datang dengan berbagai pendukung penting, jadi semoga itu akan memberikan beberapa manfaat nyata.


Sumber:

Rabu, 01 Februari 2017

Inovasi adalah kunci untuk penelitian kolaboratif



Bagi peneliti, bekerja pada pembangunan berarti berbicara dan bekerja lebih dari biasanya dengan rekan-rekan sesama peneliti. Kerangka baru dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) harus membantu menghidupkan kembali perdebatan lama mengenai keuntungan yang dari kolaborasi dan antar disiplin ilmu sebagai dasar untuk program aksi dan pembuatan kebijakan. Namun, perdebatan tersebut masih berkutat pada pembicaraaan dibanding program aksi di lapang. Seharusnya menjadi inti dari upaya strategis pelaksanaan SDG dan terus melangkah maju baik ke tingkat tertinggi dari kebijakan maupun tingkat terendah dalam pelaksanaannya. Apa yang jelas hilang tidak hanya perihal pendanaan dan kelembagaan untuk riset yang lebih kolaboratif guna menjawab pertanyaan kompleks dalam pembangunan maupun perhatian yang tepat untuk insentif, format dan alat-alat yang dapat mendorong peneliti untuk lebih berkolaborasi  - tanpa harus memilih antara kerja kolaboratif dan pekerjaan yang akan memajukan karir akademis mereka.

Kolaborasi vs Spesialisasi
Kolaborasi bukanlah standar dalam dunia riset: pelatihan akademis, kemajuan karir dan penerbitan semua yang ditetapkan oleh spesialisasi yang lebih besar. Hal ini khususnya pada kasus jurnal yang berganti menjadi jurnal online, yang dengan mudah menghubungkan para peneliti dengan agenda riset serupa di seluruh  dunia. Hanya sedikit bidang riset yang dibangun sebagai antar disiplin ilmu, seperti halnya dalam ilmu sosial, contoh yang paling jelas adalah geografi. Meningkatnya kompetisi antar akademik internasional adalah alasan lain. Ternyata kebalikannya dengan riset kolaborasi, riset generalis menjadikan para peneliti hanya berpengalaman musiman. Namun, inisiatif eksperimental dari seluruh dunia menunjukkan bahwa sesuatu dapat berubah - tanpa harus mengubah aturan akademik. Secara khusus, inovasi dalam penggunaan insentif, format dan alat-alat dapat menjadi kunci untuk mempromosikan riset kolaboratif.

Kamis, 05 Januari 2017

Penyimpangan institusi menghalangi riset interdisipliner



Riset interdisiplin sedang populer saat ini. Dari pembuat kebijakan dan penyandang dana sampai para antropolog dan ahli biologi - semua orang tampaknya bersatu dalam pandangan bahwa riset interdisiplin akan memandu mencari solusi untuk permasalahan besar kita. Namun meskipun kesepakatan tentang kebajikan kolaborasi yang lebih besar antara berbagai disiplin ilmu, konsensus bahwa riset interdisiplin sulit untuk melebur seperti lazimnya. Dalam pertemuan Euro Science Open Forum di Manchester, Inggris, muncul isu bahwa wabah baru penyakit menular seperti Zika dan Ebola menunjukkan kesulitan menerapkan temuan ilmiah di tingkat lokal di negara-negara yang terkena dampak penyakit. Para delegasi menekankan perlunya ilmuwan alam untuk bekerja dengan para ilmuwan sosial untuk mencari solusi teknis dan memastikan bahwa hasil riset yang relevan dan ditindaklanjuti dalam berbagai konteks. "Sasaran Pembangunan Berkelanjutan tidak dapat dicapai kecuali kita mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam," kata Peter Gluckman, kepala penasihat sains untuk Selandia Baru. Ada kebutuhan yang kuat untuk memadukan ilmu sosial dan humaniora dengan ilmu alam guna mengatasi isu-isu global. Selama satu sesi, peserta pertemuan mendengar bahwa agar institusi akademik dapat sepenuhnya membuat agenda riset yang berorientasi solusi guna mengatasi masalah global yang kompleks, maka organisasi riset harus mengevaluasi kembali mekanisme review-dan-reward yang telah ada.
 
Blogger Templates