Meningkatnya
penggunaan air tanah untuk irigasi merupakan ancaman utama bagi ketahanan
pangan global dan dapat menyebabkan meningkatnya harga makanan pokok. Dari
tahun 2000 sampai 2010, jumlah air tanah yang tidak terbarukan yang digunakan
untuk irigasi meningkat seperempatnya (artikel di Nature, 30 Maret 2017).
Selama periode yang sama, China telah melipatgandakan penggunaan air tanahnya. Artikel
pada Nature tersebut menemukan bahwa 11 persen ekstraksi air tanah untuk
irigasi terkait dengan perdagangan pertanian. Di
beberapa wilayah, misalnya di California Tengah atau Barat Laut India, tidak
ada cukup curah hujan atau air permukaan yang tersedia untuk menanam tanaman
seperti jagung atau padi, maka dari itu para petani menggunakan air tanah untuk
sumber pengairan tanaman mereka.
Rabu, 01 November 2017
Senin, 02 Oktober 2017
Fakta penting tentang kehilangan pangan dan limbah makanan
Setiap tahun sekitar sepertiga dari jumlah
pangan yang diproduksi di dunia dan digunakan untuk konsumsi manusia atau 1,3
miliar ton telah terbuang secara sia-sia. Kerugian hilangnya pangan dan terbuangnya
limbah makanan mencapai sekitar US $ 680 miliar yang terjadi di negara-negara
industri dan sekitar US $ 310 miliar yang terjadi di negara-negara berkembang. Negara-negara
industri dan negara berkembang membuang kira-kira jumlah makanan yang sama yaitu
masing-masing 670 dan 630 juta ton. Buah dan sayuran, ditambah umbi-umbian
memiliki tingkat pembuangan makanan paling tinggi karena mudahnya mengalami
kebusukan. Secara kuantitatif, kehilangan pangan dan limbah makanan di dunia
setiap tahunnya mencapai sekitar 30%
untuk serealia, 40-50% untuk tanaman akar, buah dan sayuran, 20% untuk benih
minyak, daging dan susu ditambah 35% untuk ikan.
Setiap tahun, konsumen di negara-negara kaya
menghabiskan 222 juta ton makanan yang hampir sama dengan seluruhan produksi pangan
dari wilayah sub-Sahara Afrika (230 juta ton). Jumlah pangan yang hilang atau
terbuang setiap tahun setara dengan lebih dari separuh produksi tanaman
serealia tahunan di dunia (2,3 miliar ton pada 2009/2010). Makanan yang
terbuang per kapita oleh konsumen sekitar 95-115 kg per tahun di Eropa dan
Amerika Utara, sementara itu konsumen di sub-Sahara Afrika, Asia Selatan dan
Asia Tenggara, masing-masing membuang hanya 6-11 kg per tahun. Total produksi pangan
per kapita untuk konsumsi manusia adalah sekitar 900 kg per tahun di
negara-negara kaya dan hampir dua kali lipat dibanding konsumsi per kapita di
negara-negara miskin yaitu 460 kg per tahun.
Jumat, 01 September 2017
Bahasa merupakan penghalang untuk menyebarkan sains
Sebuah riset
menyatakan bahwa bahasa masih merupakan penghalang utama untuk transfer sains
meskipun bahasa Inggris semakin banyak digunakan sebagai bahasa sains global.
Riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology ini menyoroti masalah praktis
yang diperjuangkan para ilmuwan di banyak belahan dunia, termasuk Afrika
francophone. Penulisnya melihat lebih dekat dokumen ilmiah tentang konservasi
keanekaragaman hayati yang diterbitkan pada tahun 2014. Sejumlah 75.000 dokumen
ditulis dalam 16 bahasa yang berbeda. Sekitar sepuluh
dokumen, kira-kira enam dokumen ditulis dalam bahasa Inggris dan tiga bahasa
lainnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa bahasa Inggris tetap menjadi bahasa
utama dalam komunitas ilmiah. Tapi hasil risetnya juga menunjukkan fakta bahwa
banyak riset masih dilakukan dalam bahasa lain selain bahasa Inggris sehingga
hasil riset yang dipublikasikan dengan bahasa lain sedikit terbaca para
peneliti atau ilmuwan lainnya. Hal ini terutama terdapat di universitas dan lembaga
riset di beberapa negara Afrika yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa utama mereka. Menurut Tatsuya Amano, peneliti utama pada studi tersebut
menyatakan bahwa dirinya telah lama tertarik untuk mengetahui bagaimana
hambatan bahasa dapat mempengaruhi sains secara umum, namun sejauh ini masalah tersebut
jarang ditangani oleh komunitas ilmiah.
Kamis, 03 Agustus 2017
Petani kedelai di Afrika Timur dan Selatan mendapat dukungan.
Para petani kecil di Afrika timur dan selatan
dapat mengambil manfaat dari sebuah proyek tentang inovasi untuk membantu
membuka hambatan dalam rantai nilai kedelai regional. Food Trade East dan
Southern Africa (FoodTrade ESA) yang didanai Inggris telah memperoleh dana
bantuan sekitar 1,2 juta dolar AS kepada Classic Foods Limited di Kenya dan
Seba Foods Limited di Zambia untuk membantu para petani kedelai di dua negara
itu untuk meningkatkan hasil panen, mengakses solusi penyimpanan tepat guna dan
pasar yang sesuai untuk produk mereka. Isaac Tallam, pakar sistem pasar Food Trade
ESA, mengatakan bahwa permintaan kedelai di Afrika meningkat karena pertumbuhan
industri pakan ternak dan konsumsi rumah tangga. Selain menjadi sumber minyak,
kedelai digunakan dalam proses industri lainnya, dengan banyak manfaat bagi
berbagai aktor di sepanjang keseluruhan rantai nilai, kata Tallam kepada
SciDev.Net. Beberapa tantangan yang harus dihadapi proyek adalah kurangnya
benih bersertifikat dan kurangnya pasar yang siap.
Selasa, 04 Juli 2017
Sains masyarakat perlu diperluas
Ilmuwan masyarakat atau
anggota masyarakat yang secara sukarela terlibat dalam karya ilmiah, telah banyak
berkontribusi dalam ilmu lingkungan, namun mereka masih memiliki potensi untuk
melakukan lebih banyak lagi guna membantu mengkaji keanekaragaman hayati
regional dan global. Menurut Mark Chandler, penulis utama studi dan direktur
riset di non-profit Earthwatch Institute, dirinya telah melihat berbagai
peserta yang mampu memberikan kontribusi yang sangat penting, termasuk
kelompok-kelompok mahasiswa dan anggota masyarakat setempat. Mark juga mengidentifikasi
beberapa jalur kunci untuk meminta para ilmuwan masyarakat untuk mengumpulkan
data. Misalnya, lembaga riset mungkin dapat
bekerja dengan masyarakat lokal untuk membantu memantau keanekaragaman hayati
pada habitat dan spesies dimana relawan
peduli terhadap hutan, spesies yang mereka buru untuk sumber makanan, alasan
ekonomi atau budaya, umumnya penduduk setempat sering memiliki pengetahuan yang
baik tentang keragaman hayati di mana mereka tinggal. Aplikasi global, seperti
iNaturalist atau eBird untuk kelompok perkotaan, maka para manajer taman dan
wisatawan dapat diminta untuk membantu membuat serangkaian foto dan catatan
serta spesies di lokasi tertentu.
Senin, 08 Mei 2017
Menemukan dampak nyata dari dukungan inovasi pertanian
Evaluasi dampak dalam pembangunan pertanian merupakan topik panas. Dan begitu pula perdebatan tentang metodologi. Sebagian besar lembaga donor yang menghasilkan studi terhadap dampak dari pembangunan pertanian tertarik untuk melaporkan kontribusi mereka untuk memenuhi Millenium Development Goals, dengan tujuan utama peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan. Sebagai tanggapan, desain riset yang canggih dan analisis ekonometrik (pengujian empiris dari model ekonomi) telah dikembangkan untuk mengisolasi efek bersih dari intervensi pembangunan dan mengukur perubahan pendapatan rumah tangga. Analisis ini mengasumsikan adanya korelasi antara kegiatan proyek, atau variabel perlakuan, dan pendapatan sebagai variabel hasil. Namun seringkali, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi hasil yang menghubungkan perubahan intervensi tertentu menjadi tidak mungkin. Bahkan dengan intervensi yang relatif sederhana seperti penyuluhan pertanian (di mana temuan riset dipromosikan untuk meningkatkan praktik pertanian) atau hibah kecil untuk mendukung percobaan, hal itu menyulitkan untuk mengukur dampaknya pada laba bersih.
Jumat, 07 April 2017
Pendekatan yang salah untuk dampak riset
Berkembangnya wabah
demam Rift Valley di Uganda memegang pelajaran penting bagi pemikiran saat ini
tentang investasi dalam riset untuk pembangunan global. Apa yang terjadi di
Uganda cukup familiar - pelajaran yang sama telah muncul sebelumnya (wabah
penyakit Ebola di Afrika Barat tahun 2013). Langkah-langkah pengendalian
epidemiologi yang dirancang untuk membatasi penyebaran penyakit tidak
sepenuhnya mempertimbangkan kenyataan yang diderita masyarakat yang terkena
dampak. Dalam hal ini, apa yang dapat dimakan atau diusahakan di lahan
pertniannya oleh masyarakat miskin pedesaan, jika susu dan daging dilarang penjualannya?
Juga saluran komunikasi resmi yang digunakan untuk mengingatkan dampak ancaman kesehatan
masyarakat tidak berasal dari tokoh masayarakat yang terpercaya. Dalam diskusi tentang
sains untuk pembangunan, sering disebut atau dinyatakan agar riset yang
dilaksanakan harus memiliki dampak terhadap masyarakat, jelas nampak nilau
suatu riset. Jadi mengapa kesalahan ini terus terjadi? Pertanyaan
yang sangat mendesak bukan hanya karena mata pencaharian dan nyawa kehidupan
masyarakat dipertaruhkan, tetapi juga karena munculnya tren dalam pendanaan riset
yang cenderung meningkatkan frekuensi kesalahan tersebut. Ironisnya, tumbuhnya kepedulian
lembaga pembangunan dengan dampak riset juga ikut menghambat untuk mempelajari apa
yang telah berhasil.
Langganan:
Postingan (Atom)
