Peringatan
Hari Pangan Sedunia merupakan suatu hari ketika kita diingatkan betapa
pentingnya pertanian dalam menyediakan kebutuhan dasar kita yaitu pangan. Lebih
penting lagi, peran penting pertanian dalam menyediakan keamanan pangan dan
mata pencaharian bagi mayoritas penduduk di negara berkembang. Hal ini sebagai
pengingat tentang bagaimana, sampai saat ini, petani dan masyarakat
internasional masih gagal untuk mengaktifkan jutaan petani skala kecil
menggunakan usahatani dan sumber daya mereka untuk mengembangkan pertanian
mereka sehingga produktif, tangguh dan berkelanjutan. Pemahaman kita tentang
ekologi dan sistem pertanian memungkinkan kita untuk mengusahakan pertanian
berkelanjutan, tetapi hal ini tidak tercermin dalam upaya penelitian dan
pengembangan bidang pertanian guna mengejar pendekatan tersebut. Ketidakadilan
ini nampak dari kenyataan tahun 2014, bahwa
Global Hunger Index menyimpulkan tingkat kelaparan tetap "mengkhawatirkan"
atau "sangat mengkhawatirkan" di 16 negara, dan laporan tahunan FAO
tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk termiskin dan lapar
tinggal di daerah pedesaan.
Selasa, 22 Desember 2015
Sabtu, 19 Desember 2015
16 fakta tentang kelaparan global yang mengejutkan pada HPS
Pada Hari Pangan Sedunia (HPS), merupakan
waktu yang tepat untuk lebih serius memperhatikan jutaan penduduk di dunia yang
menderita kemiskinan dan kelaparan dan perlu segera ada tindakan untuk mengatasai
masalah tersebut. Berikut ini sejumlah fakta yang mengejutkan.
- Sekitar 795 juta orang kekurangan gizi di seluruh dunia, yaitu satu dari sembilan orang yang tinggal di bumi ini.
- Sekitar 780 juta orang yang menderita tersebut tinggal di negara berkembang.
- Di wilayah Sub-Sahara Afrika, satu dari empat orang yang diperkirakan menderita gizi buruk. Bahkan jumlah penduduk yang kekurangan gizi bertambah sebesar 44 juta orang antara 1990-92 dan 2014-16.
- Tetapi di negara Asia yang merupakan wilayah yang memiliki penduduk paling lapar. Diperkirakan pada tahun 2014-16 terdapat 281 juta orang di Asia Selatan yang kekurangan gizi dan hanya sedikit berkurang sejak tahun 1990.
- Kekurangan gizi mengakibatkan sekitar 45% dari seluruh kematian anak di bawah usia lima tahun.
- Sekitar 3,1 juta anak meninggal setiap tahun akibat gizi buruk.
- Di Sub-Sahara Afrika, telah ada sedikit kemajuan dalam upaya mengurangi kekurangan gizi dan menurunkan jumlah anak-anak yang kekurangan berat badan dalam 25 tahun terakhir.
- Ada perbedaan besar di seluruh negara. Seperti di Amerika Latin dan Asia Timur, telah membuat kemajuan pesat dalam upaya pengurangan kelaparan. Tetapi di Afrika Tengah dan Asia Barat arahnya berbeda, jumlah penduduk yang kurang gizi lebih tinggi dibanding 1990-1992.
- Menurut WFP, jika petani perempuan memiliki akses yang sama terhadap sumber daya seperti halnya petani laki-laki, kemungkinan jumlah orang kelaparan di dunia dapat berkurang 100-150 juta orang.
- Sesungguhnya saat ini ada cukup pangan yang tersedia di dunia bagi penduduk dunia untuk hidup layak dan sehat.
- Kekurangan vitamin A mempengaruhi kehidupan 140 juta anak-anak dan merupakan penyebab utama kebutaan anak di negara-negara berkembang.
- Sekitar 20 juta anak lahir dalam kondisi gangguan mental karena ibu mereka memiliki kekurangan yodium selama kehamilan.
- Sekitar setengah dari seluruh wanita hamil di negara berkembang menderita anemia yang menyebabkan 110 kematian ibu saat melahirkan setiap tahunnya.
- Sebelum krisis saat ini, Suriah diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah. Namun hari ini, lebih dari 50% penduduk Suriah hidup di bawah garis kemiskinan.
- Menurut WFP, pada tahun 2050 kelaparan dan kekurangan gizi anak dapat meningkat hingga 20% sebagai akibat dari bencana terkait iklim.
- Kondisi darurat sering diliput banyak media, dihitung kurang dari 8% korban kelaparan.
Sumber:
World Food
Programme and Food and Agriculture Organisation of the United Nations.
Rabu, 16 Desember 2015
Apa yang perlu Anda ketahui tentang pangan masa depan?
Apa yang dimaksud dengan sistem pangan?
Sistem
pangan global adalah satu susunan interaksi yang luas dan sangat kompleks yang
melibatkan produksi, pengolahan, transportasi dan konsumsi pangan baik di
negara maju maupun negara misikin. Kita harus mempertimbangkan tata kelola dan
ekonomi produksi pangan, keberlanjutannya, jumlah pangan yang terbuang, dan
bagaimana produksi pangan mempengaruhi lingkungan alam. Kita juga harus
memikirkan bagaimana pangan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan, termasuk
nutrisi, obesitas dan keamanan pangan.
Tantangan apa yang dihadapi
sistem pangan kita?
Kenaikan
populasi adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sistem pangan kita.
Tidak hanya jumlah penduduk dunia yang diproyeksikan mencapai sembilan miliar
pada tahun 2050, tetapi juga bertambahnya jumlah orang-orang yang lebih kaya,
yang merupakan hal yang baik. Namun, orang kaya menuntut pangan yang lebih
bervariasi, dan itu berarti membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk
memproduksinya.
Sabtu, 05 Desember 2015
Lima fakta tentang jutaan penduduk yang terjebak kelaparan dan kemiskinan
Hari Pangan Sedunia (HPS) yang setiap tahunnya biasa
diselenggarakan pada tanggal 16 Oktober guna meningkatkan kesadaran perihal tantangan
menangani kelaparan dunia dan mendorong masyarakat dunia untuk terlibat dalam
memerangi masalah tersebut. Tema HPS tahun 2015 difokuskan pada "Perlindungan sosial dan pertanian: Menghilangkan
lingkaran kemiskinan pedesaan", yang menyorot pada keterkaitan antara
mengakhiri kelaparan dan kerawanan pangan melalui upaya meningkatkan perlindungan sosial yang
merupakan alat kunci dalam memutus siklus kemiskinan. Pendidikan, kesehatan dan
dukungan keuangan merupakan segala bentuk perlindungan sosial yang memainkan
peran utama dalam memastikan akses langsung ke pangan atau sarana untuk membeli makanan.
Perlindungan sosial juga penting dalam menstimulasi produksi pertanian,
kegiatan ekonomi, ketahanan keluarga, dan untuk mendorong penggunaan sumber
daya alam yang berkelanjutan dalam masyarakat lokal.
Rabu, 02 Desember 2015
Petani Wanita memiliki kunci terhadap keamanan pangan dan menghilangkan kelaparan
Wanita adalah
landasan ekonomi pedesaan, terutama di negara berkembang. Mereka memikul
tanggung jawab terbesar untuk produksi pangan, memproduksi panganlebih dari
setengah dari produksi pangan dunia dan meningkatkan produksi pangan sampai 80-90%
di negara sub-Sahara Afrika. Namun demikian, wanita terlalu sering tidak
dilibatkan dalam program konsultasi yang berdampak langsung terhadap kehidupan
mereka, seperti halnya tentang keputusan terhadap kebijakan pemerintah,
intervensi pembangunan atau program pendidikan. Wanita menghadapi hambatan baik
ekonomi dan sosial. Di Sub-Sahara Afrika, wanita yang memiliki tanha hanya 15%.
Dalam masyarakat di dunia, ada tradisi dan sikap budaya terhadap wanita yang
melarang mereka untuk memiliki dan mewarisi tanah, dan plot tanah warisan yang
dimiliki oleh wanita lebih kecil dan rendah kualitasnya. Diskriminasi ini
sebagian dapat dikaitkan dengan kurangnya pengakuan dari peran wanita yang
dapat berperan dalam produksi pangan, yang juga mengarah terhadap terbatasnya
atau mungkin tidak sama sekali tentang akses ke pelatihan dalam teknologi baru
atau varietas tanaman yang bisa meningkatkan produksi pangan.
Minggu, 22 November 2015
Siapa yang akan menjadi petani di masa depan?
FAO memperkirakan
bahwa produksi pangan harus meningkat sampai 70% dalam waktu 40 tahun kedepan untuk
memenuhi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Para ilmuwan bekerja keras
untuk mengembangkan perbaikan tanaman dan sistem produksi untuk memenuhi
tantangan ini, selain itu juga berusaha
untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki
banyak alat-alat baru untuk berperan dalam menghadapi tantangan tersebut. Penggunaan
teknologi baru akan membantu petani untuk mengadaptasikan tanaman mereka dengan
kondisi lingkungannya secara optimal secara bertahap dari lingkungan mikro
sampai ke hamparan persawahan mereka. Perbaikan varietas tanaman dengan ketahanan
yang lebih baik terhadap hama dan penyakit akan menjadi lebih efisien dalam
penggunaan nutrisi dan air, serta dapat mengkonversi lebih banyak energi cahaya
untuk perkembangan biji tanaman yang sehat. Adanya teknologi baru tersebut menawarkan
banyak optimisme bagi petani di masa depan.
Tapi
kita melupakan sesuatu. Siapa sesungguhnya petani masa depan?. Berdasarkan pengalaman diskusi Prof Ghazoul
dengan seorang petani kopi Kolombia yang melihat tantangan masa depan
usahataninya, berpendapat bahwa “tidak akan ada petani”. Alasannya,
anak-anaknya tidak ada yang tertarik dengan usahatani kopi maupun kegiatan
pertanian lainnya. Namun demikian, dia merasa bangga telah mampu mengirim anak-anaknya
ke sekolah dan perguruan tinggi, tetapi konsekuensinya mereka telah memiliki
pekerjaan yang baik di Bogota. Bagaimana kelanjutan dengan usahatani
kopinya?. Mungkin akan menjual kepada
tetangganya, kecuali para petani disekitarnya juga menghadapi problem yang sama
dengan dirinya.
Sabtu, 14 November 2015
Tren Kedepan Keamanan Pangan
Populasi penduduk.
Populasi penduduk
dunia diperkirakan mencapai 9 milyar orang pada tahun 2050, 90% diantaranya
akan berada di negara-negara sedang berkembang dimana ketersediaan air tawar
telah menjadi langka. Populasi penduduk di daerah sungai Nil diperkirakan
meningkat dua kali lipat yaitu mencapai 300 juta pada tahun 2025. Penyakit
obesitas terus berlanjut di negara-negara sedang berkembang. Diperkirakan ada
jutaan orang yang kelebihan berat badan di dunia dan sekitar 300 juta dari mereka
menderita obesitas. Obesitas terus meningkat cepat di negara-negara industri.
Karena meningkatnya PDB negara mereka, meningkat pula asupan total kalori
penduduknya( dan termasuk pula asupan daging). Kekurangan pangan dapat juga
menyebabkan konsumsi karbohidrat yang berlebihan dibanding konsumsi protein,
sehingga menyebabkan tambahan berat badan dan penyebab timbulnya penyakit
diabetes tipe II.
Langganan:
Postingan (Atom)
