Social Icons

Pages

Kamis, 05 Februari 2015

Pertanian dan Ekonomi Hijau



Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu keharusan guna menghadapi populasi dunia tahun 2050 yang mencapai 9 milyar orang dan adanya tren perubahan gaya hidup sejumlah penduduk dunia. Tetapi, bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi tersebut dengan sumberdaya alam yang kondisinya mengkawatirkan?. Dari kondisi tersebut, para ekonom dunia mulai melihat visi alternatif yang dikenal dengan ‘ekonomi hijau”. Gagasan ekonomi hijau pertama kali dimunculkan oleh UNEP tahun 2008. Istilah ekonomi hijau muncul untuk merespon krisis finansial dunia dan membawa ide bahwa kapitalisme hanya dapat bermanfaat bagi kemanusiaan di masa depan jika pasar lebih berbasis pada keberlanjutan lingkungan dan sosial dibanding era sebelumnya (Vermeulen, S., 2012). Ekonomi hijau adalah sebuah rezim ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Ekonomi Hijau juga berarti perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial (Wikipedia Indonesia, UNEP, 2011).

Senin, 02 Februari 2015

Inovasi Untuk Masa Depan



Masalah mendasar yang  mengganggu stabilias nasional, khususnya masalah penyediaan pangan dunia, adalah 1) meningkatnya populasi penduduk dunia, 2) meningkatnya rata-rata umur hidup penduduk di beberapa negara (Jepang, Itali, dan beberapa negara lain), 3) meningkatnya urbanisasi (sekitar 50% penduduk tinggal di perkotaan), 4) meningkatnya permintaan pangan, baik kuantitas maupun kualitas, dan 5) menurunnya ketersediaan lahan pertanian terus berlanjut. Fakta lain yang  menambah permasalahan tersebut dan harus diatasi oleh semua negara adalah beberapa negara terus mengimpor pangan, sekitar 1 milyar penduduk mengalami kelaparan, 1 milyar penduduk lainnya mengalami kekurangan gizi,  dan hanya beberapa negara yang mengekspor pangan ke negara lain. Permasalahan tersebut merupakan tantangan bagi pemerintahan negara-negara di dunia untuk segera dapat diatasi, khususnya para ahli pertanian dunia. Oleh karena itu, perlu adanya alokasi anggaran besar untuk investasi dibidang riset pertanian serta dukungan kebijakan yang difokuskan untuk mengatasi masalah penyediaan pangan nasional dan dunia.

Jumat, 30 Januari 2015

Petani, Pasar dan Kekuatan Konektivitas



Mengatasi kemiskinan global tidak mungkin terjadi tanpa mempertimbangkan penduduk pedesaan di negara-negara berkembang, khususnya petani kecil. Sekitar tiga-perempat penduduk di dunia hidup miskin di daerah pedesaan. Di Asia Selatan,  Afrika bagian selatan Sahara, dan Asia Timur dan Pasifik, populasi penduduk pedesaan berjumlah setengah dari total populasi penduduk masing-masing wilayah tersebut. Ketiga wilayah tersebut merupakan rumah bagi sekitar 1,1 miliar orang miskin yang hidup dengan pendapatan kurang dari US $ 1,25 per hari dan jumlahnya sekitar 90 persen dari kaum miskin di dunia. Apa tantangan utama yang dihadapi penduduk pedesaan? Kurangnya akses ke produk fisik serta teknologi dan ide-ide baru. Kurangnya akses tersebut mengakibatkan rendahnya hasil pertanian dan menghambat perbaikan kesehatan dan pendidikan mereka. Selain itu, budidaya pertanian dan penggunaan sumberdaya alam yang tidak berazaskan peletarian menyebabkan timbulnya degradasi lahan. Berdasarkan pengalaman dan bukti dilapang, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat mengatasai permasalahan tersebut. TIK dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akses terhadap informasi dan peluang membangun kapasitas penduduk pedesaan di negara berkembang. Para pembuat kebijakan, juga mendapatkan keuntungan dari peningkatan berbagi informasi, yaitu memungkinkan mereka memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang situasi dan kondisi di lapangan. TIK dapat dapat memainkan peran kunci dalam meningkatkan perbaikan di berbagai sektor, yaitu pertanian dan ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, dan lembaga keuangan.

Selasa, 27 Januari 2015

Produktivitas Serealia Dunia Mengkawatirkan?



Informasi dari Peneliti Universitas Nebraska-Lincoln (UNL) yang dimuat NatureCommunication, Dec. 17, 2013, menyatakan bahwa sekitar 30 persen dari tanaman sereal dunia yaitu  padi, gandum dan jagung, kemungkinan telah mencapai hasil maksimal di lahan petani. Temuan ini meningkatkan kekawatiran terhadap upaya peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan populasi penduduk dunia yang terus bertambah. Hasil panen ketiga komoditas tersebut mengalami penurunan atau stagnan. Padahal proyeksi produksi pangan di dunia yang akan menjamin keamanan pangan dunia didasarkan pada peningkatan hasil per satuan luas yang konstan. Dalam arti diharapkan produktivitas terus dapat ditingkatkan dengan asumsi lambatnya kenaikan luas lahan. Tren ini menjadi tidak mungkin jika dikaitkan dengan temuan para peneliti diatas. Estimasi produksi pangan dunia di masa akan datang untuk memenuhi kebutuhan penduduk 9 milyar orang tahun 2050, sebagian besar didasarkan pada proyeksi tren produktivitas. Trend ini didominasi oleh adopsi teknologi baru yang cepat berkembang luas di lahan petani, yang memungkinkan adanya peningkatan produksi pangan.

Sabtu, 24 Januari 2015

Strategi Menambah Produksi Pangan



Sektor pertanian dunia menghadapi tantangan besar untuk memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya populasi dunia, perubahan preferensi konsumen terhadap pangan (terutama daging dan susu), dan meluasnya penggunaan biofuel dari tanaman pangan. Beberapa studi dari para peneliti internasional telah mengusulkan beberapa strategi untuk meningkatkan produksi pangan yang sekaligus menurunkan permintaan pangan dengan cara merubah pola konsumsi dan pemanfaatan limbah (lihat artikel Pangan harus ditingkatkan dua kali lipat). Strategi untuk meningkatkan produksi dunia yang telah banyak diketahui oleh para ahli pertanian dunia adalah 1) memperluas lahan pertanian dunia pada kawasan hutan dan padang alang-alang dan 2) meningkatkan produktivitas tanaman dengan meningkatkan dosis pupuk, air irigasi, alat pertanian sederhana, dan benih varietas unggul. Untuk Indonesia, strategi pertama masih sangat memungkinkan karena tersedianya  lahan rawa dan lahan pasang surut, lahan kering, dan kawasan hutan, walaupun lahan tersebut memiliki kesuburan rendah dan perlu upaya besar untuk meningkatkan kesuburan lahannya. Sedangkan strategi kedua, petani Indonesia telah banyak yang mengenal varietas unggul baru dan teknik budidaya yang baik. Hanya saja, petani masih sering mengalami masalah terutama langkanya benih unggul berkualitas, tingginya harga pupuk dan obat-obatan, serta tinggginya kehilangan hasil panen (Ray dan Foley, 2013).

Senin, 19 Januari 2015

Mengapa Pertanian Organik Tidak Hijau?



Pertanian organik, pelan tapi pasti terus berkembang walaupun masih spot-spot di wilayah tertentu. Produk yang dihasilkan dari pertanian organik yang betul-betul murni,  jelas menyehatkan orang yang mengkonsumsinya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian organik kurang efisien dan produktivitasnya rendah dibanding teknik budidaya pertanian konvensional. Oleh karena itu, produk pertanian organik cukup mahal dan tidak terjangkau rumah tangga masyarakat biasa. Selain mahal, pertanian organik juga memerlukan lahan yang sangat luas jika ingin meningkatkan produknya secara besar-besaran. Padahal saat ini ketersediaan lahan pertanian yang potensial dan subur untuk budidaya tanaman pangan semakin berkurang akibat alih fungsi lahan dan digantikan dengan areal lahan bukaan baru yang tingkat kesuburan tanahnya masih perlu dibenahi dengan penggunaan input tinggi. Selain itu, masalah lain yang menghambat berkembangnya pertanian organik adalah  besarnya  jumlah penduduk yang kekurangan gizi, dan bertambahnya penduduk kelas menengah yang membutuhkan bahan pangan dengan harga terjangkau dan bergizi. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian organik tidak mampu untuk memberi makan penduduk dunia secara berkelanjutan (Gunther, M., 2012).

Kamis, 15 Januari 2015

Bagaimana Menghadapi Kelangkaan Pangan dan Air?



Kesediaan pangan di masa mendatang adalah mutlak bagi penduduk dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan dari wilayah sendiri dan mengurangi ketergantungan akan pangan impor. Namun demikian, upaya tersebut tidaklah mudah. Banyak permasalahan yang menghadang, seperti kelangkaan air, harga pangan impor yang lebih murah dibanding dalam negeri, lambatnya proses adopsi teknologi oleh petani, perubahan iklim, kelangkaan tenaga kerja pertanian di pedesaan, meningkatnya harga sarana produksi, populasi penduduk yang terus bertambah besar, globalisasi ekonomi, dll. Berdasarkan kondisi tersebut, IFPRI (International Food Policy Research Institute) melaporkan bahwa untuk menghadapi kelangkaan bahan pangan, air irigasi dan perubahan iklim saat ini dan masa akan datang, para praktisi pertanian dan petani di dunia disarankan untuk menerapkan inovasi baru. Lembaga tersebut telah mengidentifikasi ada 11 inovasi baru pada tanaman padi, jagung dan gandum yang diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan, efisiensi penggunaan air irigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim (Clancy, H., 2014).
 
Blogger Templates