Sebuah hasil riset
menunjukkan bahwa pada tahun 2030, dunia bisa kehilangan jutaan lahan pertanian
yang subur untuk memperluas kota. Di Asia dan Afrika diperkirakan sekitar 80
persen dari total lahan pertanian yang hilang. Menganalisis data satelit
tentang lahan pertanian dan produktivitasnya dengan menggunakan tahun 2000
sebagai titik referensi dan membandingkannya dengan proyeksi wilayah perkotaan
pada tahun 2030, periset internasional menemukan bahwa 30 juta hektar lahan pertanian
akan hilang sebagai akibat pertumbuhan perkotaan. Dari jumlah tersebut, Asia
dan Afrika akan kehilangan 24 juta hektar lahan pertanian utamanya. Dengan
adanya kota-kota yang menjadi pusat aktivitas ekonomi, diharapkan perubahan
skala besar akan terjadi. Namun, hal ini merupakan studi pertama yang mengkaji
dampak urbanisasi pada lahan pertanian di tingkat global, regional, dan negara.
Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Austria, Jerman, Swedia, Selandia Baru,
dan Amerika Serikat. Lahan pertanian yang akan hilang pada tahun 2030 memiliki
produktivitas yang hampir dua kali lipat dari produktivitas rata-rata global
dan menyumbang sekitar 3-4 persen dari produksi tanaman global pada tahun 2000.
Selasa, 03 April 2018
Selasa, 06 Maret 2018
Perbaikan irigasi mengurangi kesenjangan pangan
Menurut para ilmuwan,
jika semua petani menerapkan metode pengelolaan air, produksi pangan global
dapat meningkat sekitar 41 persen. Para peneliti yang menulis sebuah makalah yang
diterbitkan dalam jurnal Environmental
Research Letters menyatakan bahwa strategi pengelolaan air yang ambisius dapat meningkatkan perbaikan irigasi dan dapat mengurangi
separuh kesenjangan pangan dunia. Hal ini merupakani potensi peningkatan hasil
panen yang dapat menyediakan setengah kalori yang dibutuhkan untuk memberantas
kelaparan di seluruh dunia pada tahun 2050. Untuk mengukur dampak teknik pengelolaan air-tanaman,
model ini mempertimbangkan hujan dan data iklim lainnya dari tahun 1901 sampai
2009 dan mensimulasikan berbagai skenario perbaikan irigasi, konservasi
kelembaban tanah dan pemanenan air hujan. Berdasarkan skenario yang paling optimis, produksi dapat
meningkat lebih dari 55 persen di banyak wilayah sungai antara Timur Tengah,
Asia Tengah, China, Australia, Afrika Selatan dan Amerika Utara dan Selatan.
Kamis, 01 Februari 2018
Data terbuka sebaiknya juga tentang orang, jangan hanya inovasi.
Perubahan sejati akan terjadi jika kita
berhenti memperlakukan data sebagai suatu teknologi dan menjangkau kelompok
yang terpinggirkan, kata Ana Brandusescu. Di Filipina, ustadz - guru agama Islam
- berjuang tanpa sumber daya yang cukup untuk memberikan pendidikan
berkualitas. Meskipun dana tersedia dari pemerintah daerah, yang diminta untuk
menginformasikan anggaran mereka, namun mereka hanya sedikit usaha untuk
membagikan data ini kepada masyarakat atau menjelaskan bagaimana cara
menggunakannya. Ketika E-NET, sebuah LSM lokal, mulai mengedukasi ustadz
tentang bagaimana menggunakan data ini, mereka menemukan adanya Dana Pendidikan
Khusus untuk sekolah umum - sebuah dana yang tidak pernah diberitahukan kepada
mereka - yang dapat mencakup seragam sekolah dan gaji guru.
Pada keberhasilan itu, para guru memperluas
penggunaan data terbuka mereka, menciptakan sebuah koalisi, Federasi Komunitas Ustadz
Madrasa Kotabato Utara, yang sekarang menggunakan data terbuka untuk membuat
rekomendasi tidak hanya mengenai anggaran, tetapi juga mengenai prioritas
kebijakan untuk pendidikan masyarakat. Kita sering memikirkan data terbuka
sebagai teknis atau bagian dari transformasi digital suatu negara. Tapi sebenarnya,
data terbuka adalah tentang orang, masalah mereka, dan memberi mereka kemampuan
untuk menyelesaikan masalahnya. Sayangnya, contoh para guru agama di Filipina
ini yang memanfaatkan data anggaran
pemerintah masih sangat jarang. Mengapa kita tidak dapat lebih sering memanfaatkan
data terbuka untuk mengatasi ketidaksetaraan?. Mengapa hal itu tidak menghasilkan partisipasi
spektrum warga yang lebih luas?.
Senin, 01 Januari 2018
Mentransfer inovasi dari universitas ke lahan petani
Para peneliti pertanian
telah membantu meningkatkan hasil panen petani di China dengan tinggal di
antara para petani untuk mentransfer inovasi dari akademisi ke lahan petani. Program
pekarangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimulai pada tahun 2009 dengan para
profesor dan mahasiswa pasca sarjana dari China Agricultural University yang
pindah ke desa-desa di Kabupaten Quzhou, provinsi Hebei, untuk membantu para petani
kecil memperbaiki usahataninya. Lebih
dari lima tahun, hasil rata-rata hasil panen utama tanaman gandum dan jagung
meningkat 62,8 persen dari apa yang secara teori mungkin bisa menjadi 79,6
persen sesuai hasil riset baru-baru ini yang dipublikasikan di majalah Nature.
Menyusul keberhasilan program percontohan tersebut, saat ini telah ada sekitar
71 lokasi pengembangan di 21 propinsi dari 23 propinsi di China.
Biasanya, para ilmuwan memberikan
teknologi dan berharap petani bisa mengadopsinya, tetapi mereka kurang
benar-benar berfikir apa yang sesungguhnya dibutuhkan petani. Dalam riset ini, para
peneliti tinggal di desa dan bekerja sama dengan para petani. Para peneliti meminta
para petani untuk menunjukkan pengalaman
dan filosofinya ke dalam teknik usahataninya dan kemudian merevisinya. Melalui
pengujian guna membandingkan teknik petani dengan teknik petani di lahan mereka
sendiri, para ilmuwan mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berkontribusi penyebab
kesenjangan hasil dan diperoleh 10 rekomendasi teknik yang diusulkan untuk untuk
mengatasi senjang hasil. Setelah meminta
masukan dari para petani, serangkaian rekomendasi yang direvisi diuji oleh 71
petani kooperator dan hasilnya meningkat dari 67,9 persen dari besaran hasil yang
dapat dicapai hasil rata-rata 97 persen antara tahun 2009 dan 2014.
Sabtu, 02 Desember 2017
Tantangan dan peluang kebutuhan makanan populasi dunia yang terus tumbuh
Adanya rasa kawatir tentang
kelaparan di Afrika, IFPRI meluncurkan Laporan Kebijakan Pangan Global 2017
(GFPR) pada tanggal 23 Maret 2017. Menurut DG IFPRI, sekitar dua puluh juta
orang mungkin menderita kelaparan jika kita tidak bertindak. Sementara itu GFPR
(yang mengkaji tren dalam masalah
kelaparan dan gizi di seluruh dunia ) menunjukkan adanya kemajuan tetapi ada
masalah ketidakpastian yang mengancam keamanan pangan global, termasuk
pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan konflik regional yang terus berlanjut,
yang berkontribusi terhadap risiko berulangnya kelaparan. GFPR fokus pada tema yang berbeda setiap
tahunnya. Untuk tahun 2017, diperlukan pengamatan mendalam tentang seberapa
cepat urbanisasi membentuk kembali sistem pangan, dan pengaruhnya terhadap
ketahanan pangan dan gizi bagi penduduk pedesaan dan perkotaan.
Menyediakan pangan bagi populasi
perkotaan menimbulkan tantangan unik dan gizi buruk beralih ke daerah perkotaan.
Tapi ada kendala untuk mengatasi situasi ini. Perubahan kondisi politik secara
fundamental dapat berdampak pada keamanan pangan dan gizi global karena
berkurangnya investasi atau ketidakpastian dalam bantuan, penelitian, dan
kemitraan global. Padahal kebijakan pertanian dan pangan saat ini sangat fokus
pada produksi, untuk itu ke depan mereka harus beralih untuk mengatasi
hilangnya perantara antara produsen dan konsumen, termasuk pemrosesan dan
ritel, di mana kebijakan yang lebih baik dapat meningkatkan kesempatan kerja
dan mengurangi limbah makanan. Menurut
Vimlendra Sharan (Direktur Kantor Penghubung Amerika Utara Organisasi Pangan
dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa – FAO) jika kita ingin memberantas
kelaparan dan kemiskinan, kita harus melakukan pergeseran paradigma. Sharan
memperingatkan bahwa gambaran kelaparan, kekurangan gizi, dan kesehatan yang
buruk akan mendominasi persepsi publik - kecuali pangan diintegrasikan ke dalam
diskusi tentang kota dan sebaliknya.
Rabu, 01 November 2017
Meningkatnya penggunaan air tanah berlebihan akan mengganggu harga pangan
Meningkatnya
penggunaan air tanah untuk irigasi merupakan ancaman utama bagi ketahanan
pangan global dan dapat menyebabkan meningkatnya harga makanan pokok. Dari
tahun 2000 sampai 2010, jumlah air tanah yang tidak terbarukan yang digunakan
untuk irigasi meningkat seperempatnya (artikel di Nature, 30 Maret 2017).
Selama periode yang sama, China telah melipatgandakan penggunaan air tanahnya. Artikel
pada Nature tersebut menemukan bahwa 11 persen ekstraksi air tanah untuk
irigasi terkait dengan perdagangan pertanian. Di
beberapa wilayah, misalnya di California Tengah atau Barat Laut India, tidak
ada cukup curah hujan atau air permukaan yang tersedia untuk menanam tanaman
seperti jagung atau padi, maka dari itu para petani menggunakan air tanah untuk
sumber pengairan tanaman mereka.
Senin, 02 Oktober 2017
Fakta penting tentang kehilangan pangan dan limbah makanan
Setiap tahun sekitar sepertiga dari jumlah
pangan yang diproduksi di dunia dan digunakan untuk konsumsi manusia atau 1,3
miliar ton telah terbuang secara sia-sia. Kerugian hilangnya pangan dan terbuangnya
limbah makanan mencapai sekitar US $ 680 miliar yang terjadi di negara-negara
industri dan sekitar US $ 310 miliar yang terjadi di negara-negara berkembang. Negara-negara
industri dan negara berkembang membuang kira-kira jumlah makanan yang sama yaitu
masing-masing 670 dan 630 juta ton. Buah dan sayuran, ditambah umbi-umbian
memiliki tingkat pembuangan makanan paling tinggi karena mudahnya mengalami
kebusukan. Secara kuantitatif, kehilangan pangan dan limbah makanan di dunia
setiap tahunnya mencapai sekitar 30%
untuk serealia, 40-50% untuk tanaman akar, buah dan sayuran, 20% untuk benih
minyak, daging dan susu ditambah 35% untuk ikan.
Setiap tahun, konsumen di negara-negara kaya
menghabiskan 222 juta ton makanan yang hampir sama dengan seluruhan produksi pangan
dari wilayah sub-Sahara Afrika (230 juta ton). Jumlah pangan yang hilang atau
terbuang setiap tahun setara dengan lebih dari separuh produksi tanaman
serealia tahunan di dunia (2,3 miliar ton pada 2009/2010). Makanan yang
terbuang per kapita oleh konsumen sekitar 95-115 kg per tahun di Eropa dan
Amerika Utara, sementara itu konsumen di sub-Sahara Afrika, Asia Selatan dan
Asia Tenggara, masing-masing membuang hanya 6-11 kg per tahun. Total produksi pangan
per kapita untuk konsumsi manusia adalah sekitar 900 kg per tahun di
negara-negara kaya dan hampir dua kali lipat dibanding konsumsi per kapita di
negara-negara miskin yaitu 460 kg per tahun.
Jumat, 01 September 2017
Bahasa merupakan penghalang untuk menyebarkan sains
Sebuah riset
menyatakan bahwa bahasa masih merupakan penghalang utama untuk transfer sains
meskipun bahasa Inggris semakin banyak digunakan sebagai bahasa sains global.
Riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology ini menyoroti masalah praktis
yang diperjuangkan para ilmuwan di banyak belahan dunia, termasuk Afrika
francophone. Penulisnya melihat lebih dekat dokumen ilmiah tentang konservasi
keanekaragaman hayati yang diterbitkan pada tahun 2014. Sejumlah 75.000 dokumen
ditulis dalam 16 bahasa yang berbeda. Sekitar sepuluh
dokumen, kira-kira enam dokumen ditulis dalam bahasa Inggris dan tiga bahasa
lainnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa bahasa Inggris tetap menjadi bahasa
utama dalam komunitas ilmiah. Tapi hasil risetnya juga menunjukkan fakta bahwa
banyak riset masih dilakukan dalam bahasa lain selain bahasa Inggris sehingga
hasil riset yang dipublikasikan dengan bahasa lain sedikit terbaca para
peneliti atau ilmuwan lainnya. Hal ini terutama terdapat di universitas dan lembaga
riset di beberapa negara Afrika yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa utama mereka. Menurut Tatsuya Amano, peneliti utama pada studi tersebut
menyatakan bahwa dirinya telah lama tertarik untuk mengetahui bagaimana
hambatan bahasa dapat mempengaruhi sains secara umum, namun sejauh ini masalah tersebut
jarang ditangani oleh komunitas ilmiah.
Kamis, 03 Agustus 2017
Petani kedelai di Afrika Timur dan Selatan mendapat dukungan.
Para petani kecil di Afrika timur dan selatan
dapat mengambil manfaat dari sebuah proyek tentang inovasi untuk membantu
membuka hambatan dalam rantai nilai kedelai regional. Food Trade East dan
Southern Africa (FoodTrade ESA) yang didanai Inggris telah memperoleh dana
bantuan sekitar 1,2 juta dolar AS kepada Classic Foods Limited di Kenya dan
Seba Foods Limited di Zambia untuk membantu para petani kedelai di dua negara
itu untuk meningkatkan hasil panen, mengakses solusi penyimpanan tepat guna dan
pasar yang sesuai untuk produk mereka. Isaac Tallam, pakar sistem pasar Food Trade
ESA, mengatakan bahwa permintaan kedelai di Afrika meningkat karena pertumbuhan
industri pakan ternak dan konsumsi rumah tangga. Selain menjadi sumber minyak,
kedelai digunakan dalam proses industri lainnya, dengan banyak manfaat bagi
berbagai aktor di sepanjang keseluruhan rantai nilai, kata Tallam kepada
SciDev.Net. Beberapa tantangan yang harus dihadapi proyek adalah kurangnya
benih bersertifikat dan kurangnya pasar yang siap.
Selasa, 04 Juli 2017
Sains masyarakat perlu diperluas
Ilmuwan masyarakat atau
anggota masyarakat yang secara sukarela terlibat dalam karya ilmiah, telah banyak
berkontribusi dalam ilmu lingkungan, namun mereka masih memiliki potensi untuk
melakukan lebih banyak lagi guna membantu mengkaji keanekaragaman hayati
regional dan global. Menurut Mark Chandler, penulis utama studi dan direktur
riset di non-profit Earthwatch Institute, dirinya telah melihat berbagai
peserta yang mampu memberikan kontribusi yang sangat penting, termasuk
kelompok-kelompok mahasiswa dan anggota masyarakat setempat. Mark juga mengidentifikasi
beberapa jalur kunci untuk meminta para ilmuwan masyarakat untuk mengumpulkan
data. Misalnya, lembaga riset mungkin dapat
bekerja dengan masyarakat lokal untuk membantu memantau keanekaragaman hayati
pada habitat dan spesies dimana relawan
peduli terhadap hutan, spesies yang mereka buru untuk sumber makanan, alasan
ekonomi atau budaya, umumnya penduduk setempat sering memiliki pengetahuan yang
baik tentang keragaman hayati di mana mereka tinggal. Aplikasi global, seperti
iNaturalist atau eBird untuk kelompok perkotaan, maka para manajer taman dan
wisatawan dapat diminta untuk membantu membuat serangkaian foto dan catatan
serta spesies di lokasi tertentu.
Senin, 08 Mei 2017
Menemukan dampak nyata dari dukungan inovasi pertanian
Evaluasi dampak dalam pembangunan pertanian merupakan topik panas. Dan begitu pula perdebatan tentang metodologi. Sebagian besar lembaga donor yang menghasilkan studi terhadap dampak dari pembangunan pertanian tertarik untuk melaporkan kontribusi mereka untuk memenuhi Millenium Development Goals, dengan tujuan utama peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan. Sebagai tanggapan, desain riset yang canggih dan analisis ekonometrik (pengujian empiris dari model ekonomi) telah dikembangkan untuk mengisolasi efek bersih dari intervensi pembangunan dan mengukur perubahan pendapatan rumah tangga. Analisis ini mengasumsikan adanya korelasi antara kegiatan proyek, atau variabel perlakuan, dan pendapatan sebagai variabel hasil. Namun seringkali, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi hasil yang menghubungkan perubahan intervensi tertentu menjadi tidak mungkin. Bahkan dengan intervensi yang relatif sederhana seperti penyuluhan pertanian (di mana temuan riset dipromosikan untuk meningkatkan praktik pertanian) atau hibah kecil untuk mendukung percobaan, hal itu menyulitkan untuk mengukur dampaknya pada laba bersih.
Jumat, 07 April 2017
Pendekatan yang salah untuk dampak riset
Berkembangnya wabah
demam Rift Valley di Uganda memegang pelajaran penting bagi pemikiran saat ini
tentang investasi dalam riset untuk pembangunan global. Apa yang terjadi di
Uganda cukup familiar - pelajaran yang sama telah muncul sebelumnya (wabah
penyakit Ebola di Afrika Barat tahun 2013). Langkah-langkah pengendalian
epidemiologi yang dirancang untuk membatasi penyebaran penyakit tidak
sepenuhnya mempertimbangkan kenyataan yang diderita masyarakat yang terkena
dampak. Dalam hal ini, apa yang dapat dimakan atau diusahakan di lahan
pertniannya oleh masyarakat miskin pedesaan, jika susu dan daging dilarang penjualannya?
Juga saluran komunikasi resmi yang digunakan untuk mengingatkan dampak ancaman kesehatan
masyarakat tidak berasal dari tokoh masayarakat yang terpercaya. Dalam diskusi tentang
sains untuk pembangunan, sering disebut atau dinyatakan agar riset yang
dilaksanakan harus memiliki dampak terhadap masyarakat, jelas nampak nilau
suatu riset. Jadi mengapa kesalahan ini terus terjadi? Pertanyaan
yang sangat mendesak bukan hanya karena mata pencaharian dan nyawa kehidupan
masyarakat dipertaruhkan, tetapi juga karena munculnya tren dalam pendanaan riset
yang cenderung meningkatkan frekuensi kesalahan tersebut. Ironisnya, tumbuhnya kepedulian
lembaga pembangunan dengan dampak riset juga ikut menghambat untuk mempelajari apa
yang telah berhasil.
Kamis, 09 Maret 2017
Asia Pasific diberi label hot spot untuk keamanan air
Ekonomi di kawasan
Asia-Pasifik tidak dapat mempertahankan pertumbuhan yang dinamis saat ini, kecuali
perihal air ikut dipertimbangkan, karena kawasan ini sedang menghadapi
"krisis" dalam mengamankan dan mengelola sumber daya utama tersebut. Sebuah
laporan yang komprehensif tentang pembangunan air di Asia-Pasifik baru saja
dirilis oleh Asian Development Bank (ADB) yang menyatakan bahwa saat ini ada
kondisi "global hot spot untuk ketidakamanan air". Sekitar 3,4 miliar
orang tinggal di daerah yang mengalami kelangkaan air di Asia pada tahun 2050,
kata laporan tersebut, yang dikutip datanya dari studi yang dilakukan oleh
Institute yang berbasis di Austria (IIASA = Austria-based
International Institute for Applied Systems Analysis). Beberapa negara
di wilayah ini - Afghanistan, Cina, India, Pakistan dan Singapura -
diproyeksikan memiliki ketersediaan air per kapita terendah pada tahun 2050. Meningkatnya
permintaan dari penggunaaan air, kata presiden ADB Takehiko Nakao, sumber daya air
yang terbatas akan mengalami situasi yang lebih berbahaya.
Saya percaya tantangan paling menakutkan
adalah untuk melipatgandakan produksi pangan tahun 2050 guna memenuhi kebutuhan
pangan bagi populasi yang semakin berkembang dan makmur, sementara itu juga diperlukan
penyediaan air untuk pengguna domestik yang lebih banyak dan untuk memenuhi kebutuhan
industri dan energi," kata Nakao dalam mengawali laporan ADB. Dampak dari
perubahan iklim, meningkatnya variabilitas iklim dan bencana yang berhubungan
dengan air akan berujung pada cakrawala yang lebih menantang daripada yang kita
alami di masa lalu.
Jumat, 10 Februari 2017
2016, tahun solusi lokal terhadap masalah global
Tiga organisasi sains internasional telah
mengumumkan bahwa tahun 2016 akan menjadi Tahun Internasional Pemahaman global
(IYGU = International Year of Global Understanding), bertujuan untuk
menunjukkan "bagaimana menerjemahkan wawasan ilmiah ke dalam gaya hidup
yang lebih berkelanjutan". Inisiasi awal diumumkan pada Forum Ilmu Sosial
Dunia di Durban pada awal bulan September yang lalu, yang mencakup proyek
riset, program pendidikan dan kampanye informasi, yang dilakukan sepanjang
tahun dan di seluruh dunia. Tahun ini ditujukan untuk menekankan hubungan
antara lokal, tindakan sehari-hari dan masalah-masalah global seperti perubahan
iklim dan ketahanan pangan - dengan fokus pada kegiatan praktis, solusi berbasis
ilmu pengetahuan. Pada setiap hari pada tahun 2016, kegiatan akan menyoroti
perubahan ke aktivitas sehari-hari yang secara ilmiah telah terbukti lebih
berkelanjutan dari praktek saat ini. Inisiatif ini didukung oleh Dewan
Internasional untuk Sains, Dewan Ilmu Sosial Internasional dan Dewan
Internasional untuk Filsafat dan Ilmu Manusia. Menurut Rob Cartridge, NGO
Practical Action in the United Kingdom, diharapkan fokus tahun ini tidak akan
begitu banyak menghasilkan dana riset lebih untuk lembaga Northern, tapi lebih
ditekankan pada menerjemahkan hasil riset yang ada dan membantu agar sampai ke
tangan masyarakat miskin dan praktisi pembangunan.
Sekitar 50 pusat-pusat regional di seluruh
benua akan menyelenggarakan acara lokal, kata Benno Werlen, direktur eksekutif
IYGU, seorang ahli geografi di Universitas Friedrich Schiller Jerman di Jena.
Proyek ini akan menelan biaya sekitar € 1.500.000 (sekitar US $ 1,7 juta), dan
saat ini sedang mencari sponsor untuk tambahan dana tersebut. Diusulkan oleh
Uni Geografis Internasional, karena menurut observasi PBB bahwa IYGU tidak
memiliki status sebagai tahun internasional. Inisiatif ini bertujuan untuk
"meningkatkan suara sains" dan adalah "hanya satu-satunya tahun
internasional di bumi ini yang memiliki dukungan dari komunitas ilmiah".
Beberapa ilmuwan terkemuka dan pembuat kebijakan telah menyatakan dukungan
mereka, termasuk pemenang Nobel Kimia Yuan Tseh-Lee dari Taiwan, yang memuji
IGYU sebagai tandingan dari diskusi kebijkaan top-down.
Menurut
Tseh-Lee, ketika negosiasi global pada iklim menyerang keberlanjutan
krisis dari atas, IYGU dapat melengkapinya dengan baik dengan solusi yang
terkoordinasi dari bawah - dengan memperoleh pemahaman secara individu dan
mengubah kebiasaan sehari-hari mereka. Anantha Duraiappah, direktur Mahatma
Gandhi Institute of Education for Peace and Sustainable Development, mengatakan
tahun ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi para ilmuwan untuk bekerja
dengan para pembuat kebijakan dan membangkitkan minat dalam sains di kalangan
mahasiswa. Tetapi ia menunjukkan bahwa sulit untuk jenis proyek seperti ini untuk
menarik perhatian. Saya benar-benar berpikir bahwa ada hal berlebihan dari
peristiwa ini dan saat ini dunia sedang mengalami kelelahan acara-acara Hari
Internasional, Tahun dan Dekade. Sementara
itu, Cartridge berpendapat bahwa acara ini cukup optimis. Tahun internasional
dapat menjadi cara yang baik untuk menggembleng aksi dan menyoroti masalah. Hal
yang satu ini tampaknya datang dengan berbagai pendukung penting, jadi semoga itu
akan memberikan beberapa manfaat nyata.
Sumber:
Rabu, 01 Februari 2017
Inovasi adalah kunci untuk penelitian kolaboratif
Bagi peneliti, bekerja pada pembangunan
berarti berbicara dan bekerja lebih dari biasanya dengan rekan-rekan sesama
peneliti. Kerangka baru dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) harus
membantu menghidupkan kembali perdebatan lama mengenai keuntungan yang dari
kolaborasi dan antar disiplin ilmu sebagai dasar untuk program aksi dan
pembuatan kebijakan. Namun, perdebatan tersebut masih berkutat pada pembicaraaan
dibanding program aksi di lapang. Seharusnya menjadi inti dari upaya strategis
pelaksanaan SDG dan terus melangkah maju baik ke tingkat tertinggi dari
kebijakan maupun tingkat terendah dalam pelaksanaannya. Apa yang jelas hilang tidak hanya perihal pendanaan dan kelembagaan untuk
riset yang lebih kolaboratif guna menjawab pertanyaan kompleks dalam
pembangunan maupun perhatian yang tepat untuk insentif, format dan alat-alat
yang dapat mendorong peneliti untuk lebih berkolaborasi - tanpa harus memilih antara kerja
kolaboratif dan pekerjaan yang akan memajukan karir akademis mereka.
Kolaborasi vs Spesialisasi
Kolaborasi bukanlah standar dalam dunia riset:
pelatihan akademis, kemajuan karir dan penerbitan semua yang ditetapkan oleh
spesialisasi yang lebih besar. Hal
ini khususnya pada kasus jurnal yang berganti menjadi jurnal online, yang
dengan mudah menghubungkan para peneliti dengan agenda riset serupa di seluruh dunia. Hanya sedikit bidang riset yang
dibangun sebagai antar disiplin ilmu, seperti halnya dalam ilmu sosial, contoh
yang paling jelas adalah geografi. Meningkatnya kompetisi antar akademik
internasional adalah alasan lain. Ternyata kebalikannya dengan riset kolaborasi,
riset generalis menjadikan para peneliti hanya berpengalaman musiman. Namun,
inisiatif eksperimental dari seluruh dunia menunjukkan bahwa sesuatu dapat
berubah - tanpa harus mengubah aturan akademik. Secara khusus, inovasi dalam penggunaan insentif, format dan
alat-alat dapat menjadi kunci untuk mempromosikan riset kolaboratif.
Kamis, 05 Januari 2017
Penyimpangan institusi menghalangi riset interdisipliner
Riset interdisiplin sedang populer saat ini.
Dari pembuat kebijakan dan penyandang dana sampai para antropolog dan ahli
biologi - semua orang tampaknya bersatu dalam pandangan bahwa riset interdisiplin
akan memandu mencari solusi untuk permasalahan besar kita. Namun meskipun
kesepakatan tentang kebajikan kolaborasi yang lebih besar antara berbagai
disiplin ilmu, konsensus bahwa riset interdisiplin sulit untuk melebur seperti
lazimnya. Dalam pertemuan Euro Science Open Forum di Manchester, Inggris, muncul
isu bahwa wabah baru penyakit menular seperti Zika dan Ebola menunjukkan
kesulitan menerapkan temuan ilmiah di tingkat lokal di negara-negara yang
terkena dampak penyakit. Para delegasi menekankan perlunya ilmuwan alam untuk
bekerja dengan para ilmuwan sosial untuk mencari solusi teknis dan memastikan
bahwa hasil riset yang relevan dan ditindaklanjuti dalam berbagai konteks. "Sasaran
Pembangunan Berkelanjutan tidak dapat dicapai kecuali kita mengintegrasikan
ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam," kata Peter Gluckman, kepala penasihat
sains untuk Selandia Baru. Ada kebutuhan yang kuat untuk memadukan ilmu sosial
dan humaniora dengan ilmu alam guna mengatasi isu-isu global. Selama satu sesi,
peserta pertemuan mendengar bahwa agar institusi akademik dapat sepenuhnya membuat
agenda riset yang berorientasi solusi guna mengatasi masalah global yang
kompleks, maka organisasi riset harus mengevaluasi kembali mekanisme
review-dan-reward yang telah ada.
Senin, 02 Januari 2017
Sains berperan penting dalam keberhasilan SDG
Suatu diskusi panel
antara Scidev.Net dengan British Council yang merupakan bagian dari pameran tentang SDG (Sustainable Development Goals). Para panelis membahas bagaimana pembicaraan sekitar ilmu
pengetahuan dapat mendukung pelaksanaan SDG. Dalam diskusi tersebut, beberapa
peran yang berbeda untuk sains telah muncul:
Peran
diagnostik dan observasi: Kebijakan dan anggaran pembangunan cenderung
dimobilisasi sesuai respon, tidak diantisipasi dan direncanakan. Mengamati dan
menganalisis dampak pembangunan seperti wabah Ebola atau gempa bumi Nepal dapat
meningkatkan perencanaan investasi masa depan.
Peran
desain program: Ada dua dimensi untuk ini. Bukti merupakan hal penting untuk mencari
tahu apa program kerjanya dan di mana mereka bekerja. Elemen lain adalah
penerapan inovasi, terutama karena inovasi teknis yang kasat mata cenderung jumlahnya
tidak proporsional dari anggaran sains.
Senin, 12 Desember 2016
Sains mendasari tujuan pembangunan baru
Para Negosiator
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), telah menekankan perlunya peran sains
dalam menghadapi berbagai kekhawatiran bahwa tujuan-tujuan pembangunan baru diarahkan
untuk mengatasi masalah pada tahun 2030. Lebih dari 150 kepala negara dan
pemerintahan, serta para perwakilan tingkat tinggi, menghadiri KTT Pembangunan
Berkelanjutan PBB dan dengan suara bulat menyetujui Transforming our
world: 2030 Agenda for Sustainable Development. Agenda ini mencakup 17 tujuan dari SDGs
(dan 169 target) – lebih dari sembilan tujuan lainnya dari Millenium
Development Goals (MDGs) yang telah disepakati pada tahun 2000. Mereka mencakup
isu-isu seperti melestarikan lautan, melindungi keanekaragaman hayati,
memastikan akses ke energi dan "mengambil tindakan segera terhadap
perubahan iklim ". Menurut Flavia Schlegel UNESCO, "agenda ini sangat komprehensif dan benar-benar mencakup
aspek-aspek yang paling penting dari kehidupan di planet ini untuk tanaman,
hewan dan manusia". Adanya keragaman tujuan juga berarti bahwa
"mereka semua saling terkait".
Jumat, 02 Desember 2016
Sains berperan penting dalam keberhasilan SDG
Suatu diskusi panel
antara Scidev.Net dengan British Council yang merupakan bagian dari pameran tentang SDG (Sustainable Development Goals). Para panelis membahas bagaimana pembicaraan sekitar ilmu
pengetahuan dapat mendukung pelaksanaan SDG. Dalam diskusi tersebut, beberapa
peran yang berbeda untuk sains telah muncul:
Peran
diagnostik dan observasi: Kebijakan dan anggaran pembangunan cenderung
dimobilisasi sesuai respon, tidak diantisipasi dan direncanakan. Mengamati dan
menganalisis dampak pembangunan seperti wabah Ebola atau gempa bumi Nepal dapat
meningkatkan perencanaan investasi masa depan.
Selasa, 15 November 2016
Etika riset membutuhkan peneliti etis
Lima tahun lalu, dua jurnal
medis terkemuka - New England Journal of Medicine dan The Lancet - menimbulkan
perdebatan sengit di kalangan medis dengan mempertanyakan cara di mana peneliti
AS menguji obat anti-HIV pada ibu hamil di Afrika. Pengujian tersebut dimaksudkan untuk
mengevaluasi efektivitas pengobatan yang relatif singkat dengan obat
zidovudine. Apa yang membuat marah para
editor dari kedua jurnal adalah bahwa ibu hamil yang digunakan sebagai kelompok
kontrol tidak diberikan 'pengobatan terbaik yang tersedia', yang tersedia
di mana saja di dunia, persyaratan standar uji klinis jika dilakukan di negara
maju, tetapi hanya ditawarkan plasebo.
Kedua jurnal berpendapat
bahwa peneliti bersalah dengan standar ganda, karena mereka mengadopsi standar
perawatan yang secara etis tidak dapat diterima di negara asal mereka. Tuduhan
itu bergaung kuat dari orang-orang yang memiliki, alasan yang baik, menjadi meningkatnya
sinyal potensi eksploitasi terkait dengan meningkatnya jumlah uji klinis yang
dilakukan di negara-negara berkembang.
Selain itu juga menimbulkan sinyal berdering dalam komunitas riset. Banyak peneliti, dari negara maju dan berkembang yang telah menghabiskan karir ilmiah mereka mencari pengobatan baru untuk penyakit endemik, berpendapat bahwa itu sering tidak praktis dan tidak realistis untuk memberikan perawatan terbaik yang tersedia di tempat lainnya di dunia untuk mereka yang direkrut untuk berpartisipasi dalam uji klinis.
Selain itu juga menimbulkan sinyal berdering dalam komunitas riset. Banyak peneliti, dari negara maju dan berkembang yang telah menghabiskan karir ilmiah mereka mencari pengobatan baru untuk penyakit endemik, berpendapat bahwa itu sering tidak praktis dan tidak realistis untuk memberikan perawatan terbaik yang tersedia di tempat lainnya di dunia untuk mereka yang direkrut untuk berpartisipasi dalam uji klinis.
Langganan:
Postingan (Atom)
